Rombongan yang terdiri dari gue,Irma,Ela, dan Dini bergerak menuju Kuala Lumpur dari Singapore dengan menggunakan Kereta api senandung malam (inget lagunya Nur Afni Octavia euy..). Kereta meninggalkan Stasiun Tanjong Pagar Singapore pukul 21.00 dan dijadwalkan tiba di KL Central Station pukul 07.00 pagi. Pemesanan tiket dilakukan melalui internet dan ada trik khusus untuk mendapatkan tiket yang lebih murah. Jangan melakukan pemesanan tiket pulang pergi sekaligus jika anda berangkat dari Singapore. Lakukan terpisah, supaya kita mendapatkan currency yang berbeda. Pemesanan dari Sin-KL akan menggunakan currency SGD, sementara dari KL-Sin akan menggunakan currency RM. Anyway.. kalo kita langsung book PP Sin-KL-Sin, maka akan diberlakukan currency SGD untuk kedua tiket PP yang hampir 2 kalinya RM. Total biaya yang kami keluarkan untuk membeli tiket dengan metode dipisah adalah sekitar 300 rb pp. Selisihnya bisa 100 ribu lebih kalo langsung book PP. Lumayan kan buat beli oleh-oleh.
KIta lewat saja cerita dimana gue terlelap tidur sementara Irma kasak kusuk karena terganggu oleh suara oma2 yang sibuk ngerumpi dan merebut korsi orang. Sekitar pukul 5 subuh, gue terbangun dan mulai memikirkan sesuatu."Kok.. paspor gue nggak ada stempel masuk Malaysia sih???". Akhirnya, tanpa rasa iba pada Irma yang baru berhasil tidur, gue ucapkan kata sakti yang terus mengiringi langkah kami di Kuala Lumpur,"Ma, ketakutan gue terbesar saat ini adalah.. kita pendatang gelap di Malaysia. Kok kagak ada stempel di paspor sih??". Cukup sakti karena mampu membangunkan Irma dan merusak mood Ela dan Dini hi..hi. Irma dengan PDnya berujar.."Ada lah.. di stasiun nanti pasti ada imigrasi.." Yang ternyata.. tidak ada.
Ketakutan itu kami tularkan pula pada rombongan turis Indonesia lainnya. Salah seorang diantaranya protes tanda tak setuju sambil mendelik judes ke arah gue. Laaahhh... namanya juga ketakutan terbesar!
Sempat terbersit untuk ke KBRI. Tapi muncul ketakutan kalo nanti disangka TKW. Aduh.. payah nih. Citra KBRI sebagai tempat perlindungan warga negaranya.
Di stasiun, rombongan dijemput Iya, teman internetnya Irma. Sementara Masio, teman internet gue.. (Hidup internet!!), yang rencananya mau jemput akhirnya memilih bertemu di KLCC saja biar praktis. Sempat bertanya sama Iya soal kartu dan mendapat penjelasan kalo di Malaysia, kartu kedatangan sudah tak berlaku lagi. Tapi tetep aja.. gue keukeuh.. something wrong happened.
Di rumah Iya.. rombongan pun mandi. Gue tidur lagi.. tapi bentar kok (membela diri). Setelah photo2 di apt-nya Iya.. (hhh.. dasar turis), kami bergerak menuju Esprit Outlet. Disana gue beli kaos 99 rb plus kaca mata MNG 135 ribu. Lumayan pan.. (walau kacamata itu membuat hidung gue tambah ngilang).
Kemudian dalam perjalanan menuju KLCC, berhenti dulu pinggir jalan untuk berfoto dengan latar belakang Petronas. Katanya tempat itu adalah tempat with best angle (kalo di Indonesia, kayaknya dah ada calo yang bakalan narik bayaran buat turis yang mau foto di situ).
Sesampainya di KLCC, tujuan utama adalah Vincci. Sepatu yang jadi icon shopping di KL karena harganya yang bisa 20% lebih murah dari Indo. Irma tampak kebingungan memilih model, sementara gue memilih menyingkir. Sepertinya ada kutukan.. kalo kaki gue tidak diciptakan untuk memakai sepatu Vincci yang modelnya lancip dan mungil. Masio akhirnya datang juga dan kami pun bercipika cipiki. Terakhir ketemu MAsio adalah di bandung tahun 2007 lalu. Tak lama kemudian, Rova (sobat gue di SMP) juga nyusul. Sedikit gendut.. tapi tetap cantik dan menawan (sesuai dengan pesannya di SMS). Di sini Rova berhasil menenangkan gue dengan menunjukkan cap di kartu arrival gue. "Jangan sampe ilang! Itu udah cukup buat nunjukkin kalian masuk via Singapore. Legal'. Phewwww... KBRI see u dah bye bye..
Makan siang kami lalui di KLCC, dan gue pun menyerbu makanan kesukaan gue. laksa Asam. Laksa yang bercita rasa ..asam la yauw.. ditambah suwiran ikan pindang dengan aroma jeruk limau.. menciptakan cita rasa yang lezat (*gulp* menelan liur).
Selepas dari KLCC, rombongan berpisah. Gue,Rova,Masio dan Ela ke pasar seni buat nyari souvenir. Irma dan Iya ke Sogo. Di Pasar Seni, gue cuman liat2 aja. Males buat shopping (mohon maaf buat yang nggak kebagian oleh2.. :p). Sementara Irma.. amat sangat berprestasi dengan memborong sepatu... Vincci (total doi membeli 8 pasang).
Selanjutnya kami bertemu lagi di sate Kajang. Bedanya dengan sate Indonesia adalah.. sambel kacangnya seperti kuah. buanyak. Tapi rasanya manis. Satenya juga manis. Not really addict for it. Tapi yang jelas.. akhirnya untuk pertama kalinya gue mencicipi daging rusa. Tak ketinggalan mencicipi... (maafkan ya Menuk,Melly, dan Shinta.. ) gue makan daging kelinci juga (maafkan aku Bobo,Coreng,Upik, Emak,Bapak,Paman gembul, Bibi Titi Teliti, dan Bibi Tutup Pintu).
Waktu kian berjalan dan saatnya bersiap-siap pulang ke singapore dengan kereta api lagi. Yang lagi-lagi diisi acara mencari orang hilang dan terbirit-birit seperti biasa.. tapi kami tak ketinggalan kereta. Special Thanks buat Iya,Masio, dan Rova yang sudah menjadi Tour Guide kami. JANGAN KAPOOOOK Ya MPOK ;)
Perjalanan pulang sedikit nyaman karena kami mendapat tempat duduk yang berthing alias tempat tidur. Tanpa buang waktu lagi.. gue bobo dengan pulas. Kereta berhenti di Johor Baru untuk pemeriksaan paspor.. di atas kereta. Apakah kami dideportasi??? Phewww... kartu arrival berstempel Tanjong Pagar menjadi penyelamat. Paspor tidak dicap hanya tanda tangan petugas saja. Ahhh.. nggak asyik nih. Pukul 08 pagi, kereta berhenti di Woodland. Seluruh penumpang harus turun untuk pemeriksaan imigrasi masuk Singapore. Irma antri di line yang salah. Cap masuk Malaysia yang tidak tertera di paspor.. dipertanyakan. Untung, Irma bisa lolos tanpa harus masuk kantor interogasi.
Waktu yang mepet digunakan untuk kembali ke Orchard karena Ela dan Dini belum sempet kesana. Akhirnya, Ela dan DIni pulang duluan ke Indonesia berhubung pesawat mereka lebih siang. Gue dan Irma muter dikit ke Bugis sementara koper dah dititip di Mustafa. Dan.. seperti biasa.. kami tiba di Harbour Front, 1 menit sebelum boarding gate di tutup. Lari terusssssssssssssss.... Akhirnya perjalanan Sin-KL-Sin ditutup dengan bergeraknya kami menuju Batam by Ferry. Special thanks to Lusi yang ikut deg-degan mulai dari mengejar kereta api sampe mengejar Ferry.
Tiba di Batam pukul 1/2 3. masih ada waktu untuk berputar-putar di Mall Batam Centre. Mencicipi makanan di food court yang lumayan enak dan kemudian diakhir dengan acara.. terbirit-birit menuju Airport. Lari-lari kembali.
Alkisah.. 2 lelet berhasil mendarat kembali di Soekarno Hatta. Walau lelah karena lari-lari melulu, sempat ketakutan dideportasi dan diperiksa bea cukai (sepatu 8 pasang bo!).. namun akhirnya kami berhasil kembali ke tanah air, tanpa ketinggalan pesawat,ferry,atau kereta api (Hanya Damri aja yang lolos..).
Thanks to Irma, Dini, dan Ela yang sudah menjadi teman seperjalanan kali ini. See u again in the next trip.. ; )