Selamat Jalan...

Semua yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya..

Itu yang diajarkan oleh agama. Namun juga terkadang rasanya sukar menerima bahwa hal tersebut dapat terjadi pada kita atau orang yang dekat dengan kita.

Kamis, 21 Agustus 2008... aku kehilangan salah satu sahabat ku. Yang sudah menemaniku berbagi cerita, berbagi tangis selama 7 tahun.

Sahabat yang sekaligus teman di kantor, teman makan siang, teman datang terlambat,teman sibuk menentukan mau makan istimewa apa hari itu.

Novi.... sahabatku tersayang.

Sahabatku yang paling sabar, yang mau mendengarkan keluh kesah.

Sahabat di saat ketika aku menyebalkan pun.. masih tersenyum manis...

Penyesalanku terbesar adalah ketika menyadari selama ini sering tak memenuhi keinginannya supaya aku datang ke rumahnya, ketika dia ingin makan steak Abuba, ketika dia ingin aku menengok anaknya yang baru berumur 3 bulan, juga sering lupa bertanya apakah dia ada masalah dan apakah dia membutuhkanku. Semoga dia tahu aku sayang padanya.

Sakit rasanya kalau mengingat  aku hanya menengok 2 kali selama dia dirawat di rumah sakit. Sejuta alasan menunda-nunda menengok hanya karena alasan sibuk, tidak tega, hingga merasa kesehatannya sudah membaik.

Puncak penyesalan adalah ketika bertemu keluarganya, mereka bercerita ditengah ketidaksadaran dirinya.. orang yang selalu dia tanyakan adalah aku dan Dini, salah satu sahabatku yang juga sahabat Novi. Bahkan ketika ibunya menemani, sambil tersenyum Novi selalu berujar.. "susan ya...susan ya..". And where did I that time??? Sitting in the office!!

Penyesalan.. mungkin akhirnya hanya jadi penyesalan. tapi aku cuman berharap.. disetiap sisa hidupnya, aku pernah memberikan kebahagiaan kepadanya. Semoga dia tidak merasa menyesal berteman dengan ku. Semoga dia tidak menyesal menganggapku sahabat.

Pee.... selamat jalan yaaa. Semoga berbahagia di tempat yang baru. Berbahagia dengan Allah yang menyayangi-Mu. Thank you for everything. Terima kasih untuk sentuhan jari di bahu ketika aku merasa sedih, usapan di pipi ketika air mata menetes. Terima kasih karena membuatku selalu tertawa. Jadi ingat setiap berpisah keluar ucapan khas.."Salam dulu sama mama!" he..he..

Opee sayang.... .. Makasih karena selalu inget aku

bahkan disaat dirimu tak berdaya. Aku sediiiihhh... tapi aku ikhlas. Di detik terakhir bibirmu masih sempat mengucap asma Allah.. membaca al fatihah. Sakit yang kau alami semoga menjadi penghapus dosa-dosamu. Tempat yang indah semoga tersedia untuk mu di sana.

                            

The Best of Me

Lagi mendadak inget lagunya David Foster. Kalo nggak salah ini lagu jaman diriku kelas 6 SD. He..he.. seleranya udah selera ABG.

************

So many years gone, still I remember

How did I ever let my heart believe

In one who never gave enough to me

And so many years gone, a love that was so wrong

And I can't forget the way it used to be

And how you change the taste of love for me

You were my one more chance

I never thought I'd find

You were the one romance

I've always known in my mind

No one will ever touch me more

I only hope that in return

I might've saved the best of me for you

And we'll have no ending, no no

If we can hold on

And I think I've come this far because of you

Could be no other love but ours will do

You were my one more chance

I never thought I'd find

You were the one romance I've always known in my mind

No one will ever touch me more

I only hope that in return

I might've saved the best of me for you

No one will ever touch me more

I only hope that in return

No matter how much we have to learn

I've saved the best of me for you

Mars VS Venus

Selasa malam... terbangun di tengah malam. Setelah shalat malam.. kok susah tidur lagi ya.. akhirnya nontonlah TV. Di situ bercerita tentang sepasang pria dan wanita yang dua-duanya punya masalah yang sama. Dibayangi masa lalu dengan sang mantan.

Si cowok dulunya pacaran sama photo model. Cintaaaaaa.. banget sama sang mantan pacar. Ibaratnya.. anytime anywhere..siap menampung kembali. Si cewek.. mutusin pacarnya yang ketahuan selingkuh. Tidak berharap buat kembali sama si cowok tapi juga bete mendapati bahwa mantannya baik-baik saja setelah diputusin.

Laluuuuu... singkat kata singkat cerita semakin dekatlah mereka. Bahkan tanpa disadari sebetulnya mulai saling menyukai tapi tanpa saling menyatakan. Sebetulnya teman2 si cowok udah nyaranin buat pacaran aja.. tapi sang cowok menjawab,"Kalo gue pacaran sama dia.. ntar gue nggak bisa curhat soal mantan gue lagi dong!" Yeaahhh.. dasar cowok egois!

Ketika hubungan sudah semakin dekat... mantannya si cowok yang foto model itu tiba-tiba ngajak balikan lagi.. dan si cowok pun minta pendapat sahabat ceweknya tadi.

Apakah jawabannya si cewek, "Hmmm.. sure. I think you should see her again!"

Sang cowok bertanya,"Is it ok with you?" (Secara malamnya mereka baru saja tidur bersama). Lagi-lagi si cewek bilang.."Yes.. no problem at all." Padahal hatinya sudah berkeping-keping (memang tidak ditunjukkan adegan dimana hati jatuh berkeping-keping, tapi sebagai sesama wanita.. kerasa laah.. he..he).

Ujung2nya.. si cewek udah nggak mau dihubungin lagi sama sahabatnya itu.

"Kamu marah?" tanya si cowok yang berhasil nyegat si cewek "Enggak. Emang aku keliatan marah?" Jawab si cewek tampang jutek. Bla..bla..bla.. pada akhirnya sih..happy ending. Si cowok memutuskan untuk tidak kembali sama mantannya..dan jadian sama sahabatnya itu.

Nah.. yang gue perhatiin sih.. reaksi cewek kalo menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Ketika si cowok menanyakan sesuatu yang sebetulnya bertentangan sama hati.. masih berusaha menyenangkan hati pasangannya. Pernah baca, bahwa wanita punya kecenderungan ingin mengabdi pada pasangannya dan rela sakit hati.

Tapiii... sesudahnya, menjadi marah ketika melihat bahwa pasangan tidak peka bahwa apa yang dia lakukan menyakiti hati.

Mungkin argumen si cowok adalah,"Lah... katanya nggak apa-apa." Pdahal yang ada dipikiran si cewek adalah,"Ya kira-kira aja dong! udah sedekat ini.. ujung2nya balikan sama mantannya. Dan masih juga bertanya..apakah gue marah atau enggak. Yang bener aja mas!!"

Kalo misalnya terjadi sama diriku.. "San.. kamu marah nggak?"

Gue: *Ciaaaaaaaaattttt... Deziiiigggg!!!!!* "Sekarang udah enggak lagi...!"

PS: Irma menyarankan..sebaiknya gue ngacungin golok juga.. dan kayaknya boleh juga tuh.. he..he..

Wish it wont happened again..

Tadi malam, taksi yang ditumpangi nabrak orang. Pada saat yang sama... sebetulnya gue lagi ngelamun, how about if I have the accident. Gara2 teringat obrolan sama temenku tadi pagi yang cerita kalo dia pernah nabrak orang sampe kaki orang itu patah. Dilalaah.. lamunan selesai.. kok ya taksiku nabrak orang.. huaaaaa.....

Kayaknya memang perlu disosialisasikan cara penanganan korban kecelakaan lalu lintas. Korban tabrakan, perempuan, langsung di"jejalkan" di jok belakang taksi tanpa concern kalo mungkin saja ada bagian tubuh yang patah. (dan tentu saja tanpa concern pada diriku yang cuman bisa terbengong-bengong panik).

Akhirnya korban dibawa ke rumah sakit (setelah sebelumnya gue marah2 dulu sama sopir taksi dan temannya korban yang malah sibuk diskusi siapa yang ngebut dan siapa yang nyebrang sembarangan).

Siapa sih yang tahan liat darah ngucur dari kepala.. tapi tetap kudu menghibur si korban. Akhirnya cuman bisa mengusap-ngusap pipi si korban tanpa sadar kalo jok belakang sudah digenangi darah yang pada akhirnya membasahi celana panjang.

Friend in need is friend indeed. Beruntunglah.. diriku punya teman yang bisa ditelp buat menemani di saat panik seperti ini (gara2 suara gue yang terbata2.. dia nyangkanya, gue yang ketabrak he..he). After make sure si korban sudah ditangani dengan baik, akhirnya diriku bisa pulang. Dianter oleh temanku yang baik hati (thanks a zilion). Nyampe di rumah jam 11 malam.. mencuci celanaku yang bersimbah darah.. seperti film pembunuhan saja. kamar mandiku berubah jadi meraaah lantainya. Tidur jam 12 malam.. plus sesekali terbangun dihantui kepala bocor..hu..hu..hu.

Moral of the story:

1. Be careful with your thought! Mikir yang bagus-bagus aja.

2. Hati2 nyebrang jalan. jalan kosong bukan berarti bisa ngebut atau nyebrang seenaknya.

3. Friend is your treasure. Terutama di saat kesusahan.

4. Enaknya kalo punya pacar yang bisa nemenin kapan aja..... (halaah..ke situ lagi arahnya).

5. Dan yang paling penting.... kita nggak tahu kapan musibah menghampiri. Selalu ingat sama yang di atas.. is important.. Sesuai ceramah yang gue denger pas takziah di rumah Irma.. Innalillahi wa innalillahi rojiun.

SMS sedih

Tadi malam pukul 21.20.. dapet SMS dari Irma yang mengabarkan bahwa Papanya udah nggak ada. Inalillahi wainnalillahi rojiun...

Duh.. terbayang sedih sekali perasaan Irma dan keluarga ditinggal papanya.

Semoga almarhum mendapat pengampunan,diterima semua amal ibadahnya, dilapangkan jalannya dan mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya.

Insya Allah.. sore ini melayat ke rumah duka

Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya say...

Toge oh toge...

Toge goreng..makanan khas bogor sudah lama jadi salah satu incaran cita-cita kuliner. Kebayang..rasanya enak kriuk-kriuk ngunyah toge.

Kemarin..ketika melintas di suatu tempat di kuningan, tampaklah tukang toge goreng nangkring di trotoar (kalo di jalan..takut ketabrak soalnya). Dengan semangat Bondan Winarno..akhirnya langsung pesan 1 porsi buat dibungkus dan diriku nyaris menangis pilu melihat cara penyajiannya.

Pertama.. toge yang digoreng dengan air nampaknya tidak ditutup dengan kemungkinan sejuta kuman sudah nangring di situ.

Si abang terus masukin oncom..yang diambil atau tepatnya dicomot dengan tangannya yang berwarna cokelat tua itu. Gue cuma berdoa semoga warna tangan si emang..coklat tua.

Si abang terus..nyomot tahu. Lagi2 dengan tangan yang nggak jelas udah dicuci atau belum.

Dan terakhir... si abang ngaduk-ngaduk toge di wajan berikut asesoris oncom dan tahu. Namun sepertinya belum puas si abang bagi-bagi kuman. Setelah toge dipindah kepiring.. airnya dibuang kembali ke wajan. Supaya togenya nggak ikut tumpah ke wajan..tentunya harus ditahan..dengan tangan si abang..huaaaaaa. Kenapa kau lakukan itu padaku??? Kenapa??? Kenapa???? Singkirkan tanganmu itu dari togekuuuuu

Akhirnya..sambil bercucuran airmata kuambil bungkusan toge+kuma goreng sambil nyetor 4000 ke si emang.

Emang : "Togenya 4000 neng, kumannya gratis"

Susan : "Nuhun pisan mang. Meni Kasep!!"

Tapi..namanya juga cita-cita terpendam makan toge goreng. Akhirnya kuembat juga. May be next time nyari tukang toge goreng yang lebih higienis. Bagaimana dengan rasanya?  togenya nggak ada rasanya..oncomnya lumayan enak... kumannya?? nggak jelas.

Demi keselamatan ..akhirnya.. cuman masuk 3 sendok (maksudnya toge goreng tiga sendok!) terus minum air putih yang banyak sambil berdoa.."kuman...nyingkah jauhhh!!!" 

Boneka

Suatu malam.. di sebuah angkot.

Seorang lelaki.. around 30, naik angkot yang aku tumpangi. Tampak dirinya membawa 3 jenis barang yang membuatnya cukup kerepotan ketika naik.

Tas travel kecil di bahu yang nampaknya berisi pakaian, Pacul (???) yang dibungkus dengan karung plastik sehingga hanya terlihat gagang kayunya saja. Tebak-tebak buah manggis, mungkin bapak ini petani (?) atau buruh yang sering mengerjakan galian kabel. Dilihat dari tas travel yang dijinjing dan sesuai pengetahuan ku.. nampaknya pekerjaannya menuntutnya untuk meninggalkan rumah beberapa hari.

Bungkusan lain yang ada dipegangnya saat itu adalah... sebuah boneka kelinci besar bewarna merah muda yang dia pegang dengan sangat hati2. Beberapa kali dia membenahi plastik pembungkus boneka itu. Nampaknya buat anaknya.

Sudenly.. something warm touched my heart. Pernah melihat liputan mengenai penghasilan buruh gali di sebuah televisi. Terkadang mereka harus berpuasa jika proyek sedang sepi. Yang aku bayangkan, si bapak pasti harus berhemat supaya bisa membeli boneka itu.

Pikiran melayang pada ayahku. Waktu jaman sekolah SMP-SMA dulu...

Susan : Pak... aku mau beli tas baru.

Bapak : "Nanti... bapak belum punya uang" atau "Iya lihat-lihat aja dulu modelnya. Nunggu bapak gajian dulu".

Dulu sering ngedumel. Duh.. susah sekali sih mau beli tas aja. harus nunggu beberapa bulan ketika tas yang diincar sudah dibeli orang. Sedikit sirik dot com begicu.. kalo melihat teman-temanku gonta-ganti tas atau beli baju baru dengan gampangnya. Lately.. setelah aku kuliah baru kepikiran. Bapakku emang lagi nggak punya uang atau mengalokasikan uang buat yang lain (buktinya kalo minta uang sekolah, les atau buku lancar-lancar aja). Dan ketika bapakku membelikan sesuatu.. pastinya dirinya harus bekerja keras. Duh.. makasih ya Pak. Maafkan keegoisanku.

Akhirnya gue sampai di tempat tujuan. Turun dari angkot dan meninggalkan si bapak dan bonekanya itu. Sambil berjalan menuju rumah.. terbayang binar-binar bahagia sang anak menyambut oleh-oleh dari bapaknya itu. Ekspresi yang pastinya menghapus lelah sang bapak. Ahh.. pemandangan yang indah...

Here..There.. and Everywhere

*Cerita diupload based on request dari Irma, anggota Lelet yang diam-diam menyimpan kenangan indah di Singapore*

Selain sama2 memiliki rambut bob, punya bakso di kedua pipi, mantan anggota Paskibra (yang selalu telat datang ke sekolah.. tapi tak pernah telat latihan baris-berbaris).. persamaan kami yang lain adalah sama-sama masih mencari soulmate somewhere out there (cowok luar angkasa masuk hitungan.. Superman misalnya). Somehow ada teman kami yang berpendapat.. ini semacam kutukan gara2 ikutan Paskibra sehingga kami memang harus tiarap,jalan jongkok, bahkan ikutan jurit malam di Taman Makam dulu.. demi mendapatkan cowok idaman yang mau bayarin tiket,bayarin belanjaan, ngangkatin belanjaan dan mijetin kaki. Duh..segitu susahnya.

Alkisah, Irma sebelum berangkat ke Singapore mendapat penerawangan bahwa di perjalanan, dirinya akan menemukan seseorang. Aha!! Pucuk di cinta .. ojyek pun tiba. Akhirnya gue memberikan petuah.. ayoo Ma! tebar pesona. Mari pecahkan kutukan itu. Terus kalo seseorang itu punya teman.. kenalin ke gue ya?! he..he.

Tapi semangat kami berfoto-foto sedikit mengalihkan perhatian kami pada sekitar. Gue sih mending, waktu antri di imigrasi masih sempet2nya ngecengin si cowok berbaju merah. Sambil sedikit berharap siapa tahu dia kenalan.. terus ngajak main kartu sambil nunggu antrian. Penantian yang sia-sia, karena dia hanya curi2 pandang (mungkin dalam hati bertanya.. "Kenapa sih ni cewek dari tadi ngeliatin gue melulu :p"). Irma pada saat yang sama malah sibuk mikirin Alfons, teman kami di SMA dulu. eitss.. sebelum berita ini masuk ke check dan ricek edisi alumni SMAN 8.. perlu diklarifikasikan bahwa Irma memang sibuk memikirkan Alfons.. tepatnya memikirkan menuntut Alfons yang merekomendasikan bahwa provider kami (nama disamarkan.. takut nomor gue tiba2 hangus) tempat dia bekerja bisa automatic dapetin sinyal di Singapore dan KL. So.. our Talkactive Irma hanya bisa meratap,menangis,dan mengalami sedikit gangguan emosi karena sinyal di HP nya blank..blank..blank. Gue berusaha menghibur dan sambil dengan bangga menunjukkan sinyal di HP gue full dan dia boleh pake pulsa gue (sebelum akhirnya menyadari bahwa pulsa gue tinggal dikit..dan transferan pulsa elektronik dari Indonesia nggak berhasil masuk). Akhirnya.. gue dan Irma pun memutuskan tidak akan memberi Alfons oleh-oleh.. (hi..hi.. padahal emang nggak pernah dapet oleh2.. Alfons Pisssss!).

Kembali lagi ke soal penerawangan.. ternyata tepat sekali. Bukan hanya Irma.. namun gue juga.. dikuntit oleh seorang lelaki di Singapore. Tatapannya tajam, kulitnya kuning langsat, rambutnya ikal dan menurut Lusi sih.. lumayan ganteng (Not my type... Lus). Kemana aja gue dan Irma pergi.. selalu ada. Jadi inget lagu Beattles yang rajin dinyanyikan kalo gue and Irma pergi Karaoke.. "Here..There..and Everywhere..".

Mau tahu siapa pria yang kerap memandangi kami di sepanjang jalan..?

Psstt.. rahasia. Tapi Inisialnya M.S.K....   Di sini nih...

2 Lelets Terancam Deportasi di negeri Jiran

Rombongan yang terdiri dari gue,Irma,Ela, dan Dini bergerak menuju Kuala Lumpur dari Singapore dengan menggunakan Kereta api senandung malam (inget lagunya Nur Afni Octavia euy..). Kereta meninggalkan Stasiun Tanjong Pagar Singapore pukul 21.00 dan dijadwalkan tiba di KL Central Station pukul 07.00 pagi. Pemesanan tiket dilakukan melalui internet dan ada trik khusus untuk mendapatkan tiket yang lebih murah. Jangan melakukan pemesanan tiket pulang pergi sekaligus jika anda berangkat dari Singapore. Lakukan terpisah, supaya kita mendapatkan currency yang berbeda. Pemesanan dari Sin-KL akan menggunakan currency SGD, sementara dari KL-Sin akan menggunakan currency RM. Anyway.. kalo kita langsung book PP Sin-KL-Sin, maka akan diberlakukan currency SGD untuk kedua tiket PP yang hampir 2 kalinya RM. Total biaya yang kami keluarkan untuk membeli tiket dengan metode dipisah adalah sekitar 300 rb pp. Selisihnya bisa 100 ribu lebih kalo langsung book PP. Lumayan kan buat beli oleh-oleh.

KIta lewat saja cerita dimana gue terlelap tidur sementara Irma kasak kusuk karena terganggu oleh suara oma2 yang sibuk ngerumpi dan merebut korsi orang. Sekitar pukul 5 subuh, gue terbangun dan mulai memikirkan sesuatu."Kok.. paspor gue nggak ada stempel masuk Malaysia sih???". Akhirnya, tanpa rasa iba pada Irma yang baru berhasil tidur, gue ucapkan kata sakti yang terus mengiringi langkah kami di Kuala Lumpur,"Ma, ketakutan gue terbesar saat ini adalah.. kita pendatang gelap di Malaysia. Kok kagak ada stempel di paspor sih??". Cukup sakti karena mampu membangunkan Irma dan merusak mood Ela dan Dini hi..hi. Irma dengan PDnya berujar.."Ada lah.. di stasiun nanti pasti ada imigrasi.." Yang ternyata.. tidak ada.

Ketakutan itu kami tularkan pula pada rombongan turis Indonesia lainnya. Salah seorang diantaranya protes tanda tak setuju sambil mendelik judes ke arah gue. Laaahhh... namanya juga ketakutan terbesar!

Sempat terbersit untuk ke KBRI. Tapi muncul ketakutan kalo nanti disangka TKW. Aduh.. payah nih. Citra KBRI sebagai tempat perlindungan warga negaranya.

Di stasiun, rombongan dijemput Iya, teman internetnya Irma. Sementara Masio, teman internet gue.. (Hidup internet!!), yang rencananya mau jemput akhirnya memilih bertemu di KLCC saja biar praktis. Sempat bertanya sama Iya soal kartu dan mendapat penjelasan kalo di Malaysia, kartu kedatangan sudah tak berlaku lagi. Tapi tetep aja.. gue keukeuh.. something wrong happened.

Di rumah Iya.. rombongan pun mandi. Gue tidur lagi.. tapi bentar kok (membela diri). Setelah photo2 di apt-nya Iya.. (hhh.. dasar turis), kami bergerak menuju Esprit Outlet. Disana gue beli kaos 99 rb plus kaca mata MNG 135 ribu. Lumayan pan.. (walau kacamata itu membuat hidung gue tambah ngilang).

Kemudian dalam perjalanan menuju KLCC, berhenti dulu pinggir jalan untuk berfoto dengan latar belakang Petronas. Katanya tempat itu adalah tempat with best angle (kalo di Indonesia, kayaknya dah ada calo yang bakalan narik bayaran buat turis yang mau foto di situ).

Sesampainya di KLCC, tujuan utama adalah Vincci. Sepatu yang jadi icon shopping di KL karena harganya yang bisa 20% lebih murah dari Indo. Irma tampak kebingungan memilih model, sementara gue memilih menyingkir. Sepertinya ada kutukan.. kalo kaki gue tidak diciptakan untuk memakai sepatu Vincci yang modelnya lancip dan mungil. Masio akhirnya datang juga dan kami pun bercipika cipiki. Terakhir ketemu MAsio adalah di bandung tahun 2007 lalu. Tak lama kemudian, Rova (sobat gue di SMP) juga nyusul. Sedikit gendut.. tapi tetap cantik dan menawan (sesuai dengan pesannya di SMS). Di sini Rova berhasil menenangkan gue dengan menunjukkan cap di kartu arrival gue. "Jangan sampe ilang! Itu udah cukup buat nunjukkin kalian masuk via Singapore. Legal'. Phewwww... KBRI see u dah bye bye..

Makan siang kami lalui di KLCC, dan gue pun menyerbu makanan kesukaan gue. laksa Asam. Laksa yang bercita rasa ..asam la yauw.. ditambah suwiran ikan pindang dengan aroma jeruk limau.. menciptakan cita rasa yang lezat (*gulp* menelan liur).

Selepas dari KLCC, rombongan berpisah. Gue,Rova,Masio dan Ela ke pasar seni buat nyari souvenir. Irma dan Iya ke Sogo. Di Pasar Seni, gue cuman liat2 aja. Males buat shopping (mohon maaf buat yang nggak kebagian oleh2.. :p). Sementara Irma.. amat sangat berprestasi dengan memborong sepatu... Vincci (total doi membeli 8 pasang).

Selanjutnya kami bertemu lagi di sate Kajang. Bedanya dengan sate Indonesia adalah.. sambel kacangnya seperti kuah. buanyak. Tapi rasanya manis. Satenya juga manis. Not really addict for it. Tapi yang jelas.. akhirnya untuk pertama kalinya gue mencicipi daging rusa. Tak ketinggalan mencicipi... (maafkan ya Menuk,Melly, dan Shinta.. ) gue makan daging kelinci juga (maafkan aku Bobo,Coreng,Upik, Emak,Bapak,Paman gembul, Bibi Titi Teliti, dan Bibi Tutup Pintu).

Waktu kian berjalan dan saatnya bersiap-siap pulang ke singapore dengan kereta api lagi. Yang lagi-lagi diisi acara mencari orang hilang dan terbirit-birit seperti biasa.. tapi kami tak ketinggalan kereta. Special Thanks buat Iya,Masio, dan Rova yang sudah menjadi Tour Guide kami. JANGAN KAPOOOOK Ya MPOK ;)

Perjalanan pulang sedikit nyaman karena kami mendapat tempat duduk yang berthing alias tempat tidur. Tanpa buang waktu lagi.. gue bobo dengan pulas. Kereta berhenti di Johor Baru untuk pemeriksaan paspor.. di atas kereta. Apakah kami dideportasi??? Phewww... kartu arrival berstempel Tanjong Pagar menjadi penyelamat. Paspor tidak dicap hanya tanda tangan petugas saja. Ahhh.. nggak asyik nih. Pukul 08 pagi, kereta berhenti di Woodland. Seluruh penumpang harus turun untuk pemeriksaan imigrasi masuk Singapore. Irma antri di line yang salah. Cap masuk Malaysia yang tidak tertera di paspor.. dipertanyakan. Untung, Irma bisa lolos tanpa harus masuk kantor interogasi.

Waktu yang mepet digunakan untuk kembali ke Orchard karena Ela dan Dini belum sempet kesana. Akhirnya, Ela dan DIni pulang duluan ke Indonesia berhubung pesawat mereka lebih siang. Gue dan Irma muter dikit ke Bugis sementara koper dah dititip di Mustafa. Dan.. seperti biasa.. kami tiba di Harbour Front, 1 menit sebelum boarding gate di tutup. Lari terusssssssssssssss.... Akhirnya perjalanan Sin-KL-Sin ditutup dengan bergeraknya kami menuju Batam by Ferry. Special thanks to Lusi yang ikut deg-degan mulai dari mengejar kereta api sampe mengejar Ferry.

Tiba di Batam pukul 1/2 3. masih ada waktu untuk berputar-putar di Mall Batam Centre. Mencicipi makanan di food court yang lumayan enak dan kemudian diakhir dengan acara.. terbirit-birit menuju Airport. Lari-lari kembali.

Alkisah.. 2 lelet berhasil mendarat kembali di Soekarno Hatta. Walau lelah karena lari-lari melulu, sempat ketakutan dideportasi dan diperiksa bea cukai (sepatu 8 pasang bo!).. namun akhirnya kami berhasil kembali ke tanah air, tanpa ketinggalan pesawat,ferry,atau kereta api (Hanya Damri aja yang lolos..).

Thanks to Irma, Dini, dan Ela yang sudah menjadi teman seperjalanan kali ini. See u again in the next trip.. ; )

2 Lelets di Singapore

Setelah berhasil melampaui mimpi buruk di antrian imigrasi (walau menyisakan sedikit warna gara2 ketemu cowok manis :p).. tidurlah the 2 lelets di apartmentnya Lusi. Walau kaki kudu ditekuk dikit gara2 tidur di sofa.. tidak menggetarkan tekad tidurku. Terbangun sejenak ketika Irma berkoar-koar bangunin subuh.. dan tentu saja dilanjutkan lagi.

Akhirnya.. dengan sedikit sudah payah, bersiap-siaplah kami pukul 1/2 10 untuk mulai menjelajahi singapore. First thing first adalah sarapan. Lusi ngajak makan di Holland Avenue.. yang lokasinya expat, buat nyobain yang namanya lontong kuah isi seafood. Kuahnya bersantan dengan taburan udang yang menggugah selera. Harganya sekitar berapa yaa  (lupa euuyyy...).

Setelah menghapus jejak kuah lontong di bibir, 2 lelets + lusi bergerak menuju Orchard by bus. Lebih cepet daripada pake MRT. Di Orchard sempet beli es kream duren Opa-Opa. Duh uenaaaaaak. Dimakan sama wafer.. kriuuk. After that went to takasimaya, nengok ke Kinokuniya.. tapi buku yang dicari tak ada. Mampir ke Mark Spencer buat beli sabun mandi, Giordano borong kaos..(5 Dollaaarr). Urusan shopping, kami bergerak cukup gesit dari satu toko ke toko berikutnya. Tidak selelet ketika harus mengejar pesawat.

Makan siang, kami memilih Sushi Tei (duuh.. jauh-jauh). Diisi oleh acara omelan irma, karena piring sasarannya nggak lewat2. Gue sendiri makan salmon sama gurita alias takoyaki (nggak nendaaang!!). Pukul 5 sore, Dini dan Ela kirim SMS kalo mereka dah nyampe di Harbour Front. So.. bergeraklah gue plus irma ke sana. Sempat kebingungan mencari tempat shalat di Vivo City sebelum akhirnya terdampar di nursery room dan lorong lift (Ihhh.. mall segede gambreng tapi tidak akomodir).

Alkisah Ela dan Dini berhasil kami temukan (Dini minta ditemenin shalat dulu.. di tangga darurat!! Dooooh). Makan lagi di food court sebelum pergi ke Merlion Park.. poto depan patung singa. dasar narsis dot com.. sambil geret2 koper, berpose di sana sini padahal jalannya jauh pisan.

Tanpa disadari..sudah 1/2 8 malam. Padahal kudu ngejar kereta ke malaysia jam 1/2 9 malam. Akhirnya terbirit-biritlah naek taksi menuju apartemen Lusi. Dilalah.. udah tahu telat.. banyak sekali ritual yang masih dikerjakan. Alhasil, ketika naek taksi hanya satu pesan kami pada sang supir: "Uncle, Drive fast pleaaasee!!".

Rombongan tiba di stasiun kereta api Tanjong Pagar tepat pukul 1/2 9 dan lagi-lagi ada diantrian akhir imigrasi. Pada saat keberangkatan, kami mendapat kursi tapi bukan tipe berthing alias duduk tegak dengan manis. Dan yang lebih ciloko mentiko.. kami duduk di kursi nomor 8, yang jalannya mundur! Yuk mariii... 9  jam jalan mundur sampe Malaysia (next time pilih kursi nomor 1 sampe nomor 7 kalo menuju Malaysia). Tapi bukan Susan namanya kalo tidak bisa tidur dengan nyenyak (walau Irma sepanjang malam berusaha mensabotase dengan bergerak kian kemari). Tepat setelah kereta api melewati johor baru.. mimpi indahpun dimulai.. menuju Malaysia. Mimpi indah?? Is it??